Rabu, 01 Februari 2012

Melelehkan Pembeku-bakuan Wacana Partai Komunis Indonesia sebagai Atheis (Sebuah pengalaman Personal)


Saat masih kecil, ibu melarangku menonton film dengan judul “G30S PKI”. Menurut ibu, film itu tak bagus untuk anak-anak. Katanya, film itu banyak mengajarkan kekerasan. Karena itu, ibu selalu menyuruhku tidur sebelum film itu diputar. Hasilnya, meski aku tak menyaksikan film “PKI” secara utuh, tetapi dari cerita-cerita teman yang menonton, saat itu,  aku yakin kalau orang-orang PKI memang penghianat. Mereka membunuh para jenderal dan orang-orang islam.  
Mungkin karena pengaruh lingkungan, saat itu aku  cenderung tidak menanyakan kembali perihal bagaimana orang-orang PKI dilabeli sebagai atheis. Seolah-olah dengan demikian, sebagai orang yang beragama aku harus memusuhi PKI. Bahkan ketika belajar di sebuah pesantren, ada larangan belanja di warung luar gerbang pondok, menurut teman-temanku, karena tidak ada penjelasan eksplisit dari pihak pengasuh, rumorpun beredar kalau  orang-orang di luar pondok itu adalah orang “PKI”. Yang langsung aku asosiasikan sebagai  atheis.
Setelah dewasapun hingga sekarang, aku belum pernah menonton secara utuh film “G30S PKI”. Males  dan sudah tak menarik lagi film itu.  Pemahamanku sekarang tentang PKI lebih  banyak dipengaruhi oleh pembicaraan teman-teman gerakan ketika di S1  serta buku-buku karya intelektual Cultural Studies.
Ketika S1, teman-temanku menjadikan PKI sebagai inspirator mereka sebagai gerakan yang melakukan pendidikan politik di tingkat grassroot, terutama kaum petani dan buruh, dengan sangat masif.  Dalam bergerak mereka menggunakan spirit PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan menegaskan bahwa PKI adalah satu-satunya partai dalam sejarah di Indonesia yang memiliki massa jelas. Sehingga dari merekalah aku sedikit tahu tentang Karl Marx dan sedikit tentang partai komunis. Yang intinya, komunis bukanlah atheis.
Membaca karya Takashi Syiraisyi dengan judul zaman bergerak  mengenalkan tentang bagaimana tokoh-tokoh PKI berjuang melawan kesewenang-wenangan raja-raja di Yogya dan Solo yang menjadi antek-antek Belanda. Karya ilmiah ini menceritakan tentang tokoh-tokoh PKI yang taat beragama, misalnya H.Misbach yang dikenal  sebagai tokoh Sarekat Islam yang kemudian menjadi tokoh PKI. Sehingga ia menjadi tokoh islam yang menelaah islam dengan mendalami ayat-ayat sosial dalam al-Quran.
Haji Misbach merupakan representasi dari kelompok islam yang mencairkan  pembeku-bakuaan identitas . Dia bukan hanya islamis tetapi juga komunis. Ia  menyatukan identitas itu dalam dirinya, sekaligus mencairkan kebakuan identitas islam, komunis ataupun nasionalis. Pencairan itu dilakukan melalui tulisan Misbach yang penggalannya berbunyi: “Islam dan komunis itu satu hati, satu rasa, satu visi. Setan adalah kapitalisme” (Takasyi,1997: 393).
Kecairan identitas juga ditunjukkan Marco Kartodikromo. Ia bukan hanya seorang nasionalis, tetapi juga komunis tulen. Sosok ini menggelitik kesadaranku perihal dikotomi selama ini yang telah terhegemoni wacana orde baru dengan mengatakan kalau orang-orang komunis itu musuh nasionalis. Yang hal tersebut terus diproduksi melaluli kurikulum sekolah.
Buku ini setidaknya memberikan gambaran mendetail mengenai bagaimana kesungguhan tokoh-tokoh partai komunis indonesia dalam menggerakkan rakyat. Tujuan mereka tentu tak lain adalah untuk menggulingkan kolonialisme Belanda yang bersekongkol dengan pejabat-pejabat dalam negeri dalam menghisap kekayaan dan tenaga rakyat indonesia.
Masifnya pergerakan PKI mampu mengusik ketenangan kolonial, hingga Belanda sering memenjarakan tokoh-tokoh utama dalam partai tersebut. Meskipun begitu, tokoh-tokoh PKI  tetap memperkokoh partai dan menggalang kekuatan massa untuk bergerak bersama melawan segala bentuk penindasan. Bahkan partai inilah dalam sejarah indonesia yang mampu mengumpulkan buruh dan petani bersatu dan berserikat untuk melawan kesewanangan para raja  melalui aksi dengan demo dan  mogok.
Membaca buku ini, setidaknya menggugah kembali kesadaranku tentang sebuah harapan. Harapan bahwa perubahan kearah lebih baik dapat tercipta melalui partai. Meski hingga sekarang aku masih meragukannya. Partai-partai yang aku kenal dan akulihat, begitupun beberapa teman aktivis yang sekarang melenggang di gedung megah Jakarta, toh masuk ke lubang yang sama. Lubang yang mengajarkan mereka berebutan kue, berteriak dengan tujuan mendapat jatah untuk perut mereka sendiri. 
Kalau membandingkan partai-partai sekarang dengan PKI memang sangat jauh. Hingga penulis buku ini menyatakan bahwa PKIlah satu-satunya partai dalam sejarah indonesia hingga kini, yang mampu menggerakan kekuatan massa dengan ideologi yang jelas.
Selanjutnya, ketika saya mencoba berdialog dengan ibu-ibu yang kutemui di beberapa desa. Mereka masih sama dengan pemahamanku saat kecil bahwa komunis itu atheis dan PKIlah yang bertanggung jawab atas kekerasan G30 S. Dengan menggebu-gebu ibu-ibu yang kutemui itu menceritakan kalau banyak orang-orang islam yang dibunuh PKI. Dengan keyakinan motif pembunuhan itu karena agama. Walhasil, merekapun menyakini kalau PKI itu sama dengan Atheis.
Hingga sekarang akupun sering mendengar teman-teman menceritakan tentang tetangganya yang tidak dapat mengakses pekerjaan di ruang publik hanya karena, konon, nenek moyangnya PKI. Teman saya dari Blitar mengatakan ada tetangganya yang pandai, tamatan ilmu kedokteran di perguruan tinggi negeri ternama. Tetapi ketika ia melamar kerja di rumah sakit negeri,  ada pegawai yang mengetahui identitas ayahnya yang dulu aktif sebagai anggota PKI. Sehingga ia tidak diperbolehkan mengikuti test CPNS.
Ah…masih juga stigmatisasi terhadap PKI itu berkembang hingga sekarang, hmmm…kalau sudah begini jadi  ingat Gus Dur..
Sumber bacaan:  Takashi Syiraishi, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di jawa 1912-1926.  Jakarta: Grafiti, 1997


Sabtu, 21 Januari 2012

Sumbatan tradisi lisan



Banyak ilmuwan yang mengatakan bahwa tradisi kita masih tradisi lisan belum mempunyai tradisi membaca. Kita lebih sering menggunakan bahasa oral dalam menyampaikan atau mendapatkan informasi daripada mendapatkan atau menyampaikan lewat tradisi tulisan. Maksudnya, masih sedikitnya kebiasaan membaca, apalagi menulis di Indonesia. Bahkanpun di kalangan mahasiswa. Tujuan pernyataan ini, yang saya tangkap, adalah sebuah rangsangan untuk menggairahkan diri  berbondong-bondong membaca.

Penafsiran lain dapat diajukan pada pernyataan di atas. Terdapat makna hirearkhis dalam pernyataan itu. Kata masih pada  kalimat itu  dapat ditafsirkan sebagai memandang  lebih rendah terhadap tradisi lisan  daripada tradisi membaca atau menulis. Implikasinya,  tidak begitu diperhatikannya tradisi lisan oleh kalangan ilmuwan. Seolah-olah ingin meloncati atau melewati tradisi tersebut.  Nah, jangan-jangan karena tidak dikembangkan serta tidak dipelajari dengan seksama tradisi lisan kitalah, yang menjadikan tersumbatnya tradisi membaca atau menulis kita. 

Peremehan terhadap tradisi lisan ini semakin diperparah dengan pembatasan-pembatasan abstrak dalam pengetahuan kita tentang pelisanan pengetahuan.  Salah satunya, dapat kita cermati dari  dua pepatah yang sering dipopulerkan di masyarakat kita. yaitu  pepatah  yang berbunyi tong kosong nyaring bunyinya dan silent is gold. Dua pepatah itu  menuduh orang-orang yang berani bersuara atau banyak bertanya sebagai orang yang bodoh atau orang yang tidak berharga. 

Pengenalan lebih intens dua pepatah itu dari pepatah lainnya, entah siapa yang sengaja mempopulerkannya, cenderung berimplikasi  pada  membatasi dan membungkam tradisi lisan kita. Seolah-olah hanya orang-orang yang mengertilah yang dapat  atau boleh berbicara atau ketika orang itu berbicara maka ia harus berbicara dalam kadar tertentu. Seakan-akan ada batasan pengetahuan tertentu yang membolehkan orang-orang untuk berbicara atau tidak.  Diam dipandang pilihan lebih baik daripada berkata-kata.

Kita juga dapat mengamati batasan dalam tradisi lisan ini pada salah satu progam televisi.  Kalau anda masih ingat progam di salah satu stasiun swasta yang diberi tema Asal usul, dalam setiap episode presenternya pada pembukaan atau penutupan acara selalu berkata “Kalau usul jangan asal, kalau asal jangan usul”. Ini berarti pembungkaman orang untuk berbicara sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Tidak boleh ada spontanitas dalam mengutarakan usulnya.  Karena ketika orang akan mengeluarkan pendapat, maka ia harus berfikir mendalam dan hati-hati dulu mengenai pendapatnya. Tidak ada perasaan nyaman atau bebas untuk mengeluarkan pendapat yang tiba-tiba terlintas. Sehingga orang-orang yang berpendapat lebih sering mengikuti atau berfikir berdasarkan disiplin ilmunya. Mengeluarkan pendapat yang spontan adalah tabu,memalukan, aneh, tidak boleh. 

Teror ketakutan atau pengebirian untuk berpendapat atau berkata-kata seperti ini juga dapat kita amati ketika terjadi diskusi publik. Bahkan dalam ruang  akademikpun. Misalnya, ketika ada orang-orang yang mengatakan sesuatu yang tidak dapat dipahami audience karena pernyataan itu baru atau pernyataan itu tidak sesuai dengan pendapat audience, dengan serta merta orang-orang langsung menuduh orang itu terlalu serius, tidak pada tempatnya membicarakan hal itu atau tidak sejauh itu topiknya. Bukan mendiskusikan lebih lanjut apa yang dia katakan, tetapi malah meneror mental pemikir itu. 

Menancapnya batasan-batasan abstrak tertentu dalam tradisi lisan itu dalam otak kita, dapat kita cermati pada diri kita sendiri, setidaknya pengalaman saya dan beberapa teman yang saya amati,  adalah sering diamnya ketika kita diajak diskusi di publik. Atau kita lebih sering menunggu atau ingin mendengar orang-orang yang sudah mempelajari dari tulisan mengenai disiplin ilmu yang tengah dibicarakan. Sehingga ketakutan kalau pendapat kita salah, kalau pendapat kita nanti malah ditertawakan atau kalau ternyata kita malah takut dilabeli bodoh lebih besar daripada perasaan nyaman kalau uneg-uneg itu dikatakan. 

Dampak negatif dari penyumbatan-penyumbatan itu adalah tidak terakomodirnya suara-suara lain, pendapat-pendapat yang nyleneh, pemikiran-pemikiran yang selama ini belum terkonseptualisasikan. Sehingga para ahli disiplin ilmu tertentu  tidak mendapatkan apapun dari mereka yang lain atau sebaliknya orang-orang yang tidak mempelajari bidang yang sedang dibicarakan tidak menjadi faham benar dengan apa yang dibicarakan. Malah berputar-putar kebingungan di kepala sendiri. Seperti banyak hantu yang berdiam dalam kepala, sambil berkata, "jangan kau katakan itu, nanti kamu dituduh....".

Fakta-fakta yang saya kemukakan itu hanya sedikit dari sumbatan-sumbatan yang menghalangi lancarnya aliran tradisi lisan kita. Fatalnya, saya masih banyak menjumpai sumbatan itu yang sengaja direproduksi terus menerus dalam ruang-ruang pendidikan formal.

Peremehan terhadap tradisi lisan berdampak pada semakin menebalnya sumbatan tradisi lisan itu. Nah, dalam konteks inilah saya setuju dengan penyataan bahwa tradisi lisanlah yang utama. Karena komunikasi pertama yang dapat dengan mudah dan langsung adalah melalui komunikasi lisan ini. Bukan berarti saya meremehkan komunikasi tulisan. Maksud saya, jika kita memperhatikan dan mengamati lebih mendalam dengan memunguti kerikil-kerikil tajam yang menghambat mulusnya tradisi lisan kita selama ini , mungkin tradisi membaca atau menulis tak lagi menjadi barang mewah di negeri ini.



Rabu, 04 Januari 2012

Pameran "In Between" Karya Kurniadi Widodo



Bagi penikmat foto sepertiku, melihat pameran foto  adalah sebuah hiburan. Dalam arti, foto-foto di pameran memberikan “vitamin” mataku . Karena menurutku, karya visual instan di ruang publik sangat datar,seragam dan seperti tak memiliki niat lain kecuali membangkitkan hasrat memiliki.  Karena itu, aku selalu menyambut  bahagia ketika seoarang teman mengajak  menikmati pameran foto. 
Tetapi hal yang selalu  kutanyakan dan kadang-kadang membosankan adalah pertanyaan berulang, yaitu mengenai pesan apa yang ingin disampaikan seniman melalui karyanya. Mengkritisi estetika karya belum menjadi tradisiku. Kalau mas atau mbak mengharapkan hal itu, maka saranku, jangan meneruskan membaca catatan ini.      
Melihat pameran foto ‘In Between’di Kelas Pagi Yogyakarta, saya menangkap sebuah ironi puitika diri. Seniman menangkap kontrakdiksi pada objek-objek visual yang membentang luas di segala ruang.Objek-objek  itu bercerita  ironi  mengenai harapan manusia untuk membangun ruang yang nyaman untuk ditinggali sekaligus penghancuran harapan itu. Sederhananya, objek-objek visual itu menguak kontradiksi antara imaji yang diharapkan dengan realita ketamakan manusia sendiri.
Salah satu karya Kurniadi Widodo yang menyiratkan makna itu  berupa  pohon-pohon yang gagah perkasa menjulang ke langit yang  telah atau akan dipotong, disamping pohon-pohon itu terdapat alat-alat berat . Hanya bagian atas pohon yang terlihat karena tanah tempat pohon itu tumbuh dipagari seng dengan gambar  tumbuh-tumbuhan kecil, kereta kuda dengan penumpang dan kusirnya dengan background waktu senja.     
Pohon-pohon besar yang gersang dan gundul itu menyiratkan penghancuran alam oleh manusia. Sementara pagar seng dengan gambar tumbuh-tumbuhan kecil menyiratkan ilusi keramahan lingkungan serta kenyamanan.
Problem kerusakan lingkungan serta praktik ketamakan manusia sungguh terlihat dalam karya Widodo ini.   Objek-objek itu semacam perasaan  sinis dan mengejek para manusia. Foto-foto itu seperti sebuah cermin  para manusia mengenai hubungannya dengan bumi.  Satu wajah  berhasrat untuk melumat dan mengubah bumi, sedangkan yang lain merindui serta memimpikannya.
Karya-karya itu mewakili sebuah keresahan dan ketakutan bersama akan rusaknya alam, sekaligus ketidakberdayaan manusia mendisplinkan ketamakannya. Keinginan manusia untuk bersahabat dengan alam, dengan kampanye ramah lingkungan yang selalu digembar-gemborkan, bertabrakan dengan hasrat manusia untuk mengusai dan mengeruk untung sebanyak-banyaknya.   



Selasa, 10 Mei 2011

Pikun

Aku melihat orang tua itu begitu semangat. Ia sering hadir dalam seminar-seminar yang biasanya dihadiri generasi muda. Dalam seminar,kalaupun ada orang tua, mereka biasanya adalah para dosen atau ia menjadi pembicara dalam forum. Bagiku, melihat orang tua menjadi peserta diskusi itu seperti oase. Penyemangat ditengah keraguanku akan terciptanya revolusi melalui forum-forum seperti seminar. Dia seperti sebuah matan hadis yang menitahkan manusia agar belajar sepanjang hidup. Sejak lahir hingga ke liang lahat.

Usai seminar lelaki beruban itu berkata, “ Dulu, aku mengajar musik. Aku juga mengambil jurusan berbeda tiap tingkatan. Misalnya, ketika D1 aku mengambil ekonomi, kemudian D2 agrobinis, S1 mengambil matematika, kemudian S2 sekarang, aku belajar budaya. “ Aku belajar lagi agar tak pikun”.

Bayangkan jika kita lupa pada apa yang baru saja kita lakukan. Bisa jadi kita bereaksi tak sesuai dengan realitas. Memalukan. Misalnya kita marah-marah karena kita berfikir belum diberi makan, padahal sudah dua kali makan. Setauku,selama ini kita belajar begitu keras untuk memahami bahasa manusia, agar tak salah dalam menjawab, menerka, tertawa. Agar kita dapat bereaksi sesuai dengan yang diinginkan lawan bicara.

Pikun bagai virus komputer yang mengacak-acak memori kita. Meskipun banyak orang ingin melupakan masa lalunya yang kelam, tetapi kupikir lebih mengerikan hidup dalam pikun. Bagaimana kita lupa kalau yang berdiri di depan kita adalah pasangan hidup kita misalnya. Atau ini yang dialami nenekku, ia sering menyembunyikan kue dengan niat untuk disisakan sewaktu aku pulang sekolah, tetapi seringkali ia lupa di mana meletakkannya. Saat ditemukan kue itu sudah basi.

Karena itu sangat wajar jika bapak tua itu begitu takut dengan pikun. Usia tua memang sangat rentan denga pikun. Kalau tidak diingatkan terus menerus, masa tua hanya akan menjadi hari-hari kelabu yang dipenuhi dengan melawan pikun.
Aku jadi ingat dengan Pramoedya, penulis yang telah meninggal, dalam sebuah seminar di Yogyakarta 2004 yang lalu, dengan penuh semangat ia mengatakan, “bangkitlah anak muda, bangkitlah,bangkitlah”. Pesan itu menunjukkan begitu besar harapannya pada generasi muda.
Mungkin sesungguhnya Pram mengetahui bahwa generasi tua telah pikun. Mereka yang duduk sebagai eksekutif maupun legislatif, mereka yang menjadi menjadi direktur perusahaan sekarang sedang pikun. Pikun kalau dia dipilih untuk mewakili daerah masing-masing. Lupa kalau sebagian buruh, rakyat mereka adalah orang-orang yang masih dimiskinkan. Melupakan kalau mereka punya target waktu dalam menjalankan perintah. Hingga mereka lebih sering berperang pendapat untuk mengisi perut dan mendapatkan fasilitas pribadi, daripada berdebat habis-habisan untuk rakyat. Jangan sampai ketika mereka sadar akan kepikunannya, indonesia sudah membusuk.

Pertanyaan serupa juga aku tanyakan pada diriku sendiri, “Apa sekarang kamu yakin, kamu ndak pikun?”.

Senin, 02 Mei 2011

Malam tubuh...

Kalau mataku bisa berkata, akan kuajarkan dia kalimat pertama, "Bohong kamu" . Jika hidungku bisa bicara, aku rayu dia untuk mengatakan, "Pergi sana..tikus-tikus liar"